Fish

Selasa, 24 Mei 2011

ayat-ayat tentang manusia


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Berbicara dan berdiskusi tentang manusia selalu menarik dan karena selalu menarik, maka masalahnya tidak pernah selesai dalam arti tuntas. Pembicaraan mengenai makhluk psikofisik ini laksana suatu permainan yang tidak pernah selesai, selalu ada saja pertanyaan mengenai manusia
"Apakah dan siapakah manusia?". Pertanyaan klasik ini selalu menarik untuk dijawab oleh umat manusia sepanjang zaman. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut berbagai filosof dan ilmuwan mencoba membangun konsep apakah dan siapakah manusia. Dalam kenyataannya, jawaban atas pertanyaan ini selalu mengandung kelemahan karena keterbatasan manusia dalam memahami siapa dirinya dan sesamanya. Karenanya, sejumlah gugatan terhadap konsep manusia hadir dan "berloncatan" dihadapan kita. Permasalahannya adalah mungkinkah kita akan berhasil membangun konsep manusia yang dapat memahami dan memperlakukan manusia secara benar? Bagaimana pandangan al-Qur'an tentang manusia?
Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini. Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi, dalam arti kita sebagai manusia harus bisa menjaga, melindungi, dan melestarikan bumi. Bukan untuk merusak ataupun menghancurkan apa yang Allah ciptakan di bumi ini. Karena kesempurnaan manusia dalam berfikir dengan akal nilah manusia melaksanakan fungsinya dengan sebaik mungkin. Atas dasar itu penciptaan manusia dalam bentuk fisik dan psikis yang sebaik-baiknya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.
Berbicara tentang eksistensi manusia beserta nafsil insaninya berarti kita mengangkat suatu obyek studi yang tidak pernah bisa tuntas dipersoalkan (Sukanto MM, 1989). Manusia sebagai obyek ilmu pengetahuan akan dibicarakan dalam berbagai aspek dan seginya. Seorang biolog akan melihat manusia dari aspek biologi, sosiolog melihat manusia dari segi sosiologi, psikolog melihat manusia dari segi aspek kejiwaannya, dan begitu seharusnya ahli-ahli yang lain melihat manusia menurut disiplin ilmu masing-masing. Dorongan-dorongan kejiwaan merupakan unsur yang memberi warna pada manusianya. Dia akan menjadi manusia dengan kategori baik atau sebaliknya sesuai dengan arah yang disukainya. (Bahrun, 1973).
Menurut Posmodernisme, dalam upaya memahami manusia ilmu-ilmu sosial kemanusiaan memandang manusia sedemikian rupa, sehingga manusia layaknya alat yang bisa di otak-atik seenaknya. Dimata ilmu-ilmu sosial kemanusiaan, manusia adalah makhluk yang berada dalam keadaan sekarat dan tinggal menuju ajal tiba (man is dead or dying!!)


BAB II
AYAT-AYAT TENTANG MANUSIA
A.    QS. Al-Isra’: 70
ôs)s9ur $oYøB§x. ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä öNßg»oYù=uHxqur Îû ÎhŽy9ø9$# ̍óst7ø9$#ur Nßg»oYø%yuur šÆÏiB ÏM»t7ÍhŠ©Ü9$# óOßg»uZù=žÒsùur 4n?tã 9ŽÏVŸ2 ô`£JÏiB $oYø)n=yz WxŠÅÒøÿs? ÇÐÉÈ 
Artinya:
“Sesungguhnya telah muliakan anak-anak adam. kami angkut mereka dari daratan ke lautan, kami berikan mereka rezeki yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dangan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan.”{70}
Penjelasan
Allah SWT memuliakan anak-anak Adam terhadap penciptaan mereka yang memiliki bentuk tubuh yang sangat bagus dan sempurna, berjalan dengan tegak di atas kedua kakinya, dan makan dengan ke dua tangannya. Allah memberi mereka pendengaran, penglihatan dan hati untuk memahami segala hal, memperolel mamfaat, membedakan antara berbagai perkara, dan mengetahui karakteristik keuntungan dan kerugian dari berbagai perkara yang menyangkut persoalan agama dan dunia. Allah juga menciptakan binatang-binatang sebagai alat transportasi untuk mereka di daratan seperti kuda, dan kedelai, juga alat transportasi di laut seperti kapal besar dan kapal kecil dari pembuatan mereka sendiri yang di ilhami oleh Allah. Allah juga memberi mereka rezeki dari yang baik-baik sesuai kebutuhan mereka, lagi lezat dan bermanfaat untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan jiwa mereka. Dan Allah melebihkan mereka atas banyak makhluk dari siapa yang telah Allah ciptakan dengan kelebihan yang sempurna. Yakni binatang-binatang lain dan jenis mahkluk lainnya.[1]
Sesunggunya kelebihan yang di berikan Allah kepada manusia dapat di lihat pada kemajuan hidup manusia, bertambah lama bertambah maju, menangkap ikan sampai berniaga dari pulau ke pulau, benua ke benua dan sampai terbang ke udara, menyelam di laut dan di zaman mutakhir ini telah mencapai bulan[2]
Manusia patut ditingkatkan martabatnya sampai pada tingkatan untuk memiliki keahliannya untuk menduduki jabatan khalifah (penguasa/pengatur) di atas bumi ini dan kemungkinannya untuk dibebani kewajiban-kewajiban dan kepercayaan atau amanat. Sebab hanya manusialah yang secara khusus dilengkapi dengan akal pikiran, kecakapan, dan kecerdasan serta hal-hal yang berkaitan dengan itu semua.
Ayat ini merupakan anjuran agar manusia bersyukur dan jangan menyekutukan Tuhannya, karena Allah telah menundukkan baginya apa yang ada di darat dan di laut, bahkan memeliharanya dengan perhatiannya yang baik serta diberinya petunjuk kepada pembuatan bahtera hingga tempat berlayar di laut dan memberinya rezeki dengan yang baik-baik, serta melebihkannya atas sebagian besar makhluk-Nya.

B.     QS. Al-Mu’minuun: 5
tûïÏ%©!$#ur öNèd öNÎgÅ_rãàÿÏ9 tbqÝàÏÿ»ym ÇÎÈ  
Artinya:
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya {5}
Penjelasan
         Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak lah tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas, yaitu orang-orang yang melakukan perbuatan haram seperti berzina.
Barang siapa yang menerima apa yang telah di halalkan oleh Allah kepadanya, dan mereka hanya mendekati istri atau suaminya maupun budaknya,maka tiada celaan dan dosa atasnya.[3]

C.    QS. Al-A’raaf: 175-176
ã@ø?$#ur öNÎgøŠn=tæ r't6tR üÏ%©!$# çm»oYøs?#uä $oYÏF»tƒ#uä yn=|¡S$$sù $yg÷YÏB çmyèt7ø?r'sù ß`»sÜø¤±9$# tb%s3sù z`ÏB šúïÍr$tóø9$# ÇÊÐÎÈ
Artinya:
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami(pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu dia di ikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orng yang sesat.”{175}
Penjelasan 
Ayat ini diperintahkan kepada Rasulullah oleh Allah untuk menyampaikan pesan Allah (al Qur’an) yang berisi petunjuk bagi orang-orang musyrik untuk memudahkan mereka mengetahui, dan memahami keesaan Tuhan yang Maha Esa (Allah) sehingga mereka mempunyai pedoman, dan pegangan dalam beraqidah, dan berisi tuntunan keagamaan yang diridhai Allah swt, akan tetapi mereka tidak peduli – mengabaikan - petunjuk tersebut, dan mengingkarinya, serta tidak mengamalkannya .
Dalam pembahasan ini, sebenarnya pengetahuan tentang keesaan Tuhan sudah menjadi fitrah yang sudah melekat dalam diri manusia, yang sewaktu-waktu bisa mereka kembangkan, dan mereka musnahkan.
Namun ayat ini adalah sebagai perumpamaan terhadap orang-orang yang telah mengetahui kebenaran, dan dimilikinya akan tetapi mereka mengingkarinya, dan enggan mengikuti tuntunan kebenaran bahkan menyimpang darinya. Mereka itu melepaskan apa yang ada pada dirinya bagaikan ular melepaskan kulitnya meninggalkan diri dari ayat tersebut, dan tidak mengamalkannya - maka mereka diikuti setan sampai mereka tergoda, sehingga jadilah mereka kelompok orang-orang yang sesat .
Maksud kata menguliti (انسلخ) adalah mereka bukan hanya tidak mengamalkan petunjuk yang diberikan Allah kepada mereka, melainkan mereka memang benar-benar membuangnya jauh-jauh - benar-benar melupakannya/benar-benar menghilangkannya - dari hidup mereka. kesimpulan ini bisa ditarik dari asal kata tersebut, yaitu: kata انسلخ berasal dari kata سلخ yang bermakna membeset atau mengupas kulit sesuatu sehingga terpisah secara penuh, kulit, dan daging atau isi sesuatu.
Kata فا تبع الشيطان ada yang memahaminya dalam arti diikuti sehingga terkejar oleh setan lalu menggodanya sehingga ia terjerumus., dan ada juga yang memahaminya, bahwa yang bersangkutan demikian sangatlah bejat, dan durhaka, maka setan sang pendurhaka itu yang mengikutinya.
Sedangkan kata فكان من الغاوين (sehingga jadilah ia orang-orang yang sesat) menunjukkan bahwa kesesatanya sudah sangat jauh sehingga ia wajar dimasukkan dalam kelompok itu. Karena jika seseorang dimasukan dalam suatu kelompok tertentu, menunjukkan kemantapan serta kemampuannya yang luar biasa menyangkut profesi kelompok tersebut, sehingga redaksi semacam itu lebih dalam maknanya dari pada redaksi Dia adalah sesat .

öqs9ur $oYø¤Ï© çm»uZ÷èsùts9 $pkÍ5 ÿ¼çm¨ZÅ3»s9ur t$s#÷zr& n<Î) ÇÚöF{$# yìt7¨?$#ur çm1uqyd 4 ¼ã&é#sVyJsù È@sVyJx. É=ù=x6ø9$# bÎ) ö@ÏJøtrB Ïmøn=tã ô]ygù=tƒ ÷rr& çmò2çŽøIs? ]ygù=tƒ 4 y7Ï9º©Œ ã@sVtB ÏQöqs)ø9$# šúïÏ%©!$# (#qç/¤x. $uZÏG»tƒ$t«Î/ 4 ÄÈÝÁø%$$sù }È|Ás)ø9$# öNßg¯=yès9 tbr㍩3xÿtFtƒ ÇÊÐÏÈ  

Artinya:
“Dan kalau kami menghendaki, sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dangan ayat-ayat itu, tetapi dia cendrung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaan seperti anjing jika kamu menghalaunya di ulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkan dia mengeluarkan lidahnya (juga). Demikian itu lah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu, agar mereka berfikir.”{176}
Penjelasan
Tuhan adalah Maha segala-galanya, dialah Tuhan yang Maha kuasa atas meninggikan derajat manusia dengan cara menyucikan jiwanya merupakan suatu hal yang sangat mudah baginNya, yaitu melalui petunjuk-petunjukNya yang tersirat dalam firmanNya. Dan perlu diketahui bahwasanya kehendak Allah tersebut mengikuti amal seseorang karena memang manusia dibekali potensi (kemampuan) untuk berusaha menemukan yang terbaik sesuai ataupun yang tidak sesuai dengan petunjuk Tuhan.
Ayat ini menjelaskan tentang orang-orang (Hina) yang sudah menpunyai pengetahuann tentang ayat-ayat Allah yang mendalam, namun ia melepaskan tuntunan pengetahuan tesebut, ia mendapatkan pengetahuan akan tetapi masih terjerumus mengikuti hawa nafsunya, yang akan mengarahkan ia kepada ketamakan terhadap dunia. Tidak peduli ia butuh atau tidak, ia sudah memiliki hiasan dunia maupun belum, ia terus menerus mengejar, dan berusaha mendapatkan, dan menambah perhiasan dunia, karena yang demikian itu sudah menjadi sifat bawaan yang diumpamakan seekor anjing yang selalu terengah-engah sambil menjulurkan lidahnya yang tidak hanya dalam kedaan letih, dan haus, tapi dalam keadaan apapun dia akan selalu seperi itu.

D.    QS. Ali ‘Imran: 102
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qà)®?$# ©!$# ¨,ym ¾ÏmÏ?$s)è? Ÿwur ¨ûèòqèÿsC žwÎ) NçFRr&ur tbqßJÎ=ó¡B ÇÊÉËÈ  
Artinya:
“hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepanda Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama islam”{102}
Penjelasan
Taqwa secara etimologis berarti waspada diri dan takut. Taqwa kepada Allah secara terminologis adalah melaksanakan perintah Allah sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dan menjauhi larangan Allah sebagaimana yang dilarang oleh Allah. Sementara sahabat nabi memahami arti “haqqa tuqatih” sebagaimana sabda nabi, yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawai dari Abdullah Ibn Mas’ud:

Artinya: “Ittaqullah haqqa tuqatihi” ialah hendaknya Dia ditaati tidak dimaksiati, disyukuri tidak diingkari dan diingat tidak dilupakan”. (H.R. Al-Hakim)

Ada juga yang memahami  “haqqa tuqatih” itu dengan “bertakwa kepada Allah sesuai dengan kemampuan maksimal yang dimilikinya, ini  didasarkan pada Surat At-Taqhabun;
فَـاتَّقُوا اللهَ مَـا اسْتَطَعْتُمْ

Artinya: Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu. (Q.S. At-Taghabun: 16)
Yang dimaksud dengan “Walatamutunna wa antum muslimuun” antara lain adalah “Janganlah seseorang itu meninggal melainkan ia berbaik sangka kepada Allah”, sesuai hadits Nabi:

Artinya: “Jangnlah seorang diantara kamu mati melainkan ia berbaik sangka terhadap Allah” (H.R. Muslim)

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Allah berfirman: Aku berada pada prasangka hamba-Ku terhadap diri-Ku. Jika ia berprasangka baik maka ia adalah untuk dirinya sendiri dan jika ia berburuk sangka terhadap diri-Ku maka itu adalah untuk dirinya sendiri”.

“Walatamutunna wa antum muslimuun” biasa juga dipahami bahwa “janganlah seseorang muslim meninggal dunia sebelum semua aspek aktifitas lahir dan bathinnya sesuai dengan perintah Allah dan RasulNya.

Asbabun Nuzul
Pada zaman jahiliyah sebelum Islam ada dua suku yaitu; Suku Aus dan Khazraj yang selalu bermusuhan turun-temurun selama 120 tahun, permusuhan kedua suku tersebut berakhir setelah Nabi Muhammad SAW mendakwahkan Islam kepada mereka, pada akhirnya Suku Aus; yakni kaum Anshar dan Suku Khazraj hidup berdampingan, secara damai dan penuh keakraban, suatu ketika Syas Ibn Qais seorang Yahudi melihat Suku Aus dengan Suku Khazraj duduk bersama dengan santai dan penuh keakraban, padahal sebelumnya mereka bermusuhan, Qais tidak suka melihat keakraban  dan kedamaian mereka, lalu dia menyuruh seorang pemuda Yahudi duduk bersama Suku Aus dan Khazraj untuk menyinggung perang “Bu’ast” yang pernah terjadi antara Aus dengan Khazraj lalu masing-masing suku terpancing dan mengagungkan sukunya masing-masing,  saling caci maki dan mengangkat senjata, dan untung Rasulullah SAW yang mendengar perestiwa tersebut segera datang dan menasehati mereka: Apakah kalian termakan fitnah jahiliyah itu, bukankah Allah telah mengangkat derajat kamu semua dengan agama Islam, dan menghilangkan dari kalian semua yang berkaitan dengan jahiliyah?. Setelah mendengar nasehat Rasul, mereka sadar, menangis dan saling berpalukan. Sungguh peristiwa itu adalah seburuk-buruk sekaligus sebaik-baik peristiwa. Demkianlah asbabun nuzul Q.S. Ali Imran ayat 101-103 menurut sahabat.

E.     QS. At-Tiin: 1-7
ÈûüÏnG9$#ur ÈbqçG÷ƒ¨9$#ur ÇÊÈ  
Artinya:
 “Demi (buah) tiin dan (buah) zaitun.”{1}

Penjelasan
         Empat sumpah Allah yang beruntun, bahwa Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Tin dan Zaitun adalah buah-buah terkenal. Sebagian ulama berpendapat bahwa Allah telah menghendaki bersumpah dengan buah ini. Bisa saja Allah bersupah dengan buah yang lain, karena semu yang tumbuh di muka bumi ini merupakan dalil kekuasaan Allah. Adakah yang lebih indah di bandingkan tanah yang mengeluarkan rasa manis, bau harum dan warna indah? Siapa yang mengeluakan dari tanah hitam, buah-buahan yang mengiurkan ini? Tidak lain hanyalah Allah.
Para muhaqqiq berpendapat bahwa sumpah itu berkaitan dengan tempat-tempat syariat terdahulu. Dan ini lebih memungkinkan memadukan semuanya. Ini di kuatkan oleh riwayat Ibn Abbas, bahwa Tin adalah mesjid nabi nuh yang di bangun di atas bukit judi (terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan mosopotamia) sesusai angin topan reda. Dan Zaitun adalah mesji Al-Aqsya yang di bangun oleh nabi Ibrahim setelah membangun mekkah.

ÍqèÛur tûüÏZÅ ÇËÈ  
Artinya:
“Dan demi bukit Thursina.”{2}
Penjelasan
      Thursina adalah gunung di mana tempat Allah ber-Tajalli kepada musa dan memberinya risalah.

#x»ydur Ï$s#t7ø9$# ÂúüÏBF{$# ÇÌÈ  
Artinya:
“Dan demi kota (mekah) yang aman.”{3}
Penjelasan
      Al-Balad Al-Amin adalah kota mekkah, sumber dakwah islam dan tempat cahanya bersinar.

ôs)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þÎû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ  
Artinya:
Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya.”{4}

Penjelasan
      Yang di sumpahi adalah penciptaan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, tapi yang di maksud bukan rupa yang baik dan postur yang tegak. Dalam sebuah hadis di sebutkan “Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh mu, tidak pula melihat rupamu, melainkan melihat hati mu.” Postur yang baik merupakan salah satu keistimewaan manusia. Namun keistimewaan mereka yang pertama, dan mungkin yang terakhir adalah kecerdasan akal dan lurusnya fitrah.
      keistimewaan manusia dibanding binatang yaitu akal, dan keistimewaan manusia di bandingkan malaikat yaitu nafsu. Ayat ini dikemukakan dalam konteks penggambaran anugerah Allah kepada manusia, dan tentu tidak mungkin anugerah tersebut terbatas pada bentuk fisik.
      Tiupan ruh dari Allah Yang Maha Tinggi berjalan di sekujur tubuh manusia, sehingga menjadikan sebagai wujud yang penting. Pembuntukannya yang pertama terdapat isyarat bahwa manusia di lahirkan dengan tauhid dan istiqamah.

¢OèO çm»tR÷ŠyŠu Ÿ@xÿór& tû,Î#Ïÿ»y ÇÎÈ  
Artinya:
“Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).”{5}
Penjelasan
      Kemudian lingkungan mempengaruhi manusia, sehinggamungkin miring, bengkok dan melupakan asalnya yang tinggi. Ketika melupakan Tuhannya, sehingga fitrah mereka rusak,melakukan dosa dosa yang membuat tubuh merinding.sehingga menurunkan derajat manusia. Dan kemudian Allah mengembalikannya ke tingkat yang serendah-rendahnya.[4]
Asbabun Nuzul
      Imam Ibnu Jarir telah mengetengahkan sebuah hadits melalui Jabir al-‘Aufi bersumber dari Ibnu Abbas, sehubungan dengan firman Allah: “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)”. (QS. at-Tiin: 5). Ibnu Abbas r.a telah menceritakan bahwa mereka yang di isyaratkan oleh ayat ini adalah segolongan orang-orang yang dituakan umurnya hingga tua sekali pada zaman Rasulullah saw, karena itu di nyatakanlah perihal mereka, sewaktu mereka sudah pikun, maka Allah menurunkan firman-Nya yang menjelaskan tentang pemaafan bagi mereka. Lalu dinyatakan-Nya bahwa bagi mereka pahala dari amal baik yang dahulu mereka lakukan sebelum pikun

žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßgn=sù íô_r& çŽöxî 5bqãYøÿxE ÇÏÈ  
Artinya:
“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”{6}
Penjelasan
      Hanya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh derajatnya akan selalu di angkat oleh Allah. Allah akan menempatkan mereka di tempat yang mulia di sisi Allah, serta Allah akan melimpahkan mereka pahala yang tiada putus-putusnya agar menjadi bekal bagi mereka di hari kemudian.

$yJsù y7ç/Éjs3ムß÷èt/ ÈûïÏe$!$$Î/ ÇÐÈ 
Artinya:
 “Maka apakah yang membuat kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu.”{7}
Penjelasan
         Tidak ada alasan bagi manusia untuk mendustakan hari pembalasan, karena keterangan-keterangan tentang hari pembelasan sudah di jelaskan oleh Allah dalam ayat-ayat-Nya dan juga Allah telah menunjukkan bukti yang nyata kepada manusia.


BAB III
PENUTUP
Manusia adalah makhluk yang di ciptakan Tuhan sebagai khalifah dimuka bumi, dilengkapi dengan keunggulan-keunggulan berupa keindahan potur tubuh, dan terutama akal yang tidak dimiliki makhluk lainnya temasuk malaikat pun tidak memilikinya.
Kelebihan dan kesempurnaan inilah yang menjadikan manusia sangat berperan. Sebagai makluk yang lebih sempurna dibandingkan yang lainnya yang terutama dalam segi potensinya dalam berfikir, manusia tidak hanya diam tergeletak bersama dunia, akan tetapi dia berhadapan dengan dunia (Heiddeger). Manusia tidak hanya diam mengikuti alur pergerakan dunia, dan pasrah menerima nasipnya begitu saja selayaknya binatang yang hanya berjalan apa adanya mengikuti kodratnya tanpa ada perubahan apapun, dan sedikitpun dari kehidupannya dari dulu sampai sekarang, dan kemungkinan besar sampai masa yang akan datang. Akan tetapi manusia selalu bergerak berusaha melawan kodrat untuk mendapatkan perubaha-perubahan yang sesuai dengan kecendrungan yang dia inginkan yaitu menuju kebahagiaan, dan kehidupan yang lebih sempurna, baik didunia lebih-lebih dihadapan Tuhannya.
Dalam mencapai tujuan manusia yang paling utama (kebahagiaan akhirat). Manusia tidak dapat menghilangkan/mengabaikan kehidupan dunia, karena untuk mencapai kebahagiaan tersebut manusia harus menjalankan petunjuk-petunjuk yang diberikan Tuhan kepadanya dengan menggunakan potensi-potensi yang sudah Tuhan persiapkan/tanamkan dalam benak setiap manusia, baik petunjuk Tuhan secara langsung dari firmanNya, ataupun petunjukNya yang melalui lainnya yang berupa petunjuk dari pemahaman, dan petunjuk dari alam.
DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Nasib Ar-Rifa’i. Kemudahan Dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 3, Jakarta: Gema Insane, 2000

Syeikh Muhammad Ghazali. Tafsir Tematik Dalam Al-Quran. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2004.

Hamka. Tafsir Al Azhar. Juzu’ XV, Jakarta: PT Pustaka Panji Mas, 1992


[1] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i. Kemudahan Dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 3. (Jakarta: Gema Insane, 2000) hlm. 81
[2] Hamka. Tafsir Al Azhar. Juzu’ XV. (Jakarta: PT Pustaka Panjimas, 1992) hlm. 102
[3] Muhammad Nasib Ar-Rifa’i. Kemudahan Dari Allah: Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 3. (Jakarta: Gema Insane, 2000) hlm. 408
[4] Syeikh Muhammad Ghazali. Tafsir Tematik Dalam Al-Quran (Jakarta: Gaya Media Pratama. 2004) hlm 659-660

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

kritik dan sarang sangat diharapkan